BNews, Buntok — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM/DEMA) bersama organisasi Cipayung Kabupaten Barito Selatan yang terdiri dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Serta Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menggelar aksi kemanusiaan dengan membagikan ribuan masker KN95 secara gratis kepada masyarakat, di kawasan Simpang Lima, Bundaran H. Indar Barito Selatan, Minggu, (19/10)
Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian nyata mahasiswa terhadap kesehatan masyarakat di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi ancaman bagi kualitas udara dan kesehatan warga.
Melalui aksi tersebut, mahasiswa turun langsung ke tengah masyarakat untuk membagikan masker KN95 sebagai langkah membantu mengurangi paparan partikel berbahaya saat beraktivitas di luar ruangan. Aksi ini sekaligus menjadi wujud solidaritas dan tanggung jawab sosial mahasiswa terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Koordinator aksi, Sugi, menyampaikan bahwa gerakan kemanusiaan ini merupakan bentuk nyata kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kritik dan mengawal kebijakan pemerintah, tetapi juga harus mampu mengambil tindakan konkret ketika masyarakat menghadapi situasi yang membutuhkan kepedulian bersama.
“Bagi kami, gerakan mahasiswa bukan hanya tentang demonstrasi dan menyampaikan kritik. Ketika masyarakat menghadapi ancaman kesehatan akibat kabut asap, mahasiswa juga harus hadir, bergerak, dan memberikan manfaat nyata. Ribuan masker yang kami bagikan ini merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas kami kepada masyarakat Barito Selatan,” ujar Sugi.
Ia juga menegaskan bahwa aksi pembagian masker bukanlah akhir dari perjuangan mahasiswa dalam merespons persoalan karhutla. Menurutnya, perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan beriringan dengan upaya pencegahan kebakaran, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan, serta penanganan dampak lingkungan secara serius dan berkelanjutan.
Kolaborasi BEM bersama PMII, HMI, dan GMNI dalam aksi ini menunjukkan bahwa perbedaan organisasi tidak menjadi penghalang untuk bersatu dalam urusan kemanusiaan. Ketika kesehatan dan keselamatan masyarakat menjadi taruhan, solidaritas dan kerja bersama harus menjadi prioritas.
Mahasiswa juga mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait agar terus meningkatkan langkah penanganan karhutla, menyediakan informasi kualitas udara yang mudah diakses, serta memastikan masyarakat terdampak memperoleh perlindungan dan pelayanan kesehatan yang memadai.
Aksi kemanusiaan ini menjadi pesan bahwa mahasiswa tidak boleh berjarak dari realitas sosial. Kehadiran mahasiswa harus dapat dirasakan melalui gagasan, keberanian menyampaikan aspirasi, dan tindakan nyata yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Mahasiswa bukan hanya suara perlawanan, tetapi juga tangan yang terulur ketika rakyat membutuhkan pertolongan.”
BEM, PMII, HMI, dan GMNI Barito Selatan — Bersatu dalam kemanusiaan, bergerak untuk kesehatan masyarakat.(riz)







